Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerita hikmah

Pagi hari, saat aku menggores sejarah

Gambar
(sumber gbr http://www.carfreediet.com/tasks/sites/cfd/assets/Image/cartoon_bus.gif) Pagi hari adalah keindahan, saat berkah dicurahkan dari langit, saat semangat dan harapan memenuhi langit, saat langit tersenyum menyaksikan manusia bertebaran mencari rizki. .Udara sejuk dan bersih, penat telah hilang, semua permasalahan dan beban hidup telah dipasrahkan dalam lantunan doa tadi malam, pagi adalah sebuah awal yang penuh harapan indah.

Maaf pak, bu...aku sengaja nguping...

Gambar
(Sumber gambar : http://www.bishopscleeve.gloucs.sch.uk/kids/kids_index.asp)  Salah satu hobbyku adalah menulis tapi sayangnya kegiatan ini tidak terlalu sering aku lakukan . Menulis di blog berbeda dengan menulis buku harian yang dulu sering kulakukan saat masih remaja, menulis di blog tentu saja harus ada temanya, jalan ceritanya, dan karena tulisan itu akan dibaca orang lain (tidak seperti buku harian jadulku yang digembok) maka aku bertekad semua tulisanku harus ada manfaat atau hikmahnya buat yang membaca.

Sekolahan anak orang kaya

Angkot yang kutumpangi berjalan tersendat-sendat, tak biasanya jalanan macet bahkan saat hujan sekalipun, apalagi hujan deras dari pagi sudah berubah menjadi gerimis saat menjelang petang. Seperti biasa penumpang di dalam angkot sepi, hanya ada aku dan seorang ibu yang duduk dekat pintu. Setelah beberapa menit tampaknya angkot kami hanya berjalan beberapa meter saja, kami mulai penasaran ada apa.   " Tumben macet pak, ada apa di depan, apa ada pohon roboh?” tanya ibu-ibu di depanku. Akupun ikut menjulurkan kepala  mencoba melihat ke depan.

Tanya mbah gugel aja

Seorang rekan kerjaku di kantor bertanya “mba foto profil d bb ku ga update juga ni, padahal udah direstart, kenapa ya mba..?”  Aku baru hendak membuka mulutku menjawab ketika seorang rekan yang lain nyeletuk   “ tanya mbah gugel aja..hari gini koq repot”. Kami berdua langsung terdiam dan saling berpandangan, temanku akhirnya buka suara “ aku udah cari tapi ga ketemu jawaban yang pas, lagian siapa tau ada yang pernah ngalamin juga foto di bb nya ga bisa update jadi bisa bantuin”.

Ramadhan adalah mama

Aku tak pernah melihat orang yang sangat gembira saat bulan Ramadhan tiba selain mamaku. Mamaku selalu menyambut datangnya bulan suci dengan cara yang spesial. Kesibukannya akan dimulai dari beberapa hari sebelum Ramadhan, mama dengan suka cita membersihkan rumah bahkan ke bagian-bagian yang jarang dibersihkan seperti gudang, mencuci semua gorden jendela dan mencuci stoples yang akan digunakan saat lebaran nanti. Semakin dekat hari pertama puasa, mama akan belanja ekstra banyak dan spesial dibanding hari -hari biasanya.

Musyawarah Buku

  Sekumpulan buku menghuni sebuah lemari kaca. Mereka terdiri dari beberapa jenis buku, rak paling bawah dihuni  buku bacaan, majalah anak–anak dan remaja juga komik yang sudah sangat usang karena usianya sudah puluhan tahun, rak ke dua dihuni buku-buku dan majalah agama, rak tengah atau rak ke tiga ditempati buku-buku dan majalah keterampilan yang masih baru, penghuni rak ke empat adalah buku-buku komputer, berbagai macam buku-buku bahasa pemrograman,  buku manajemen  dan majalah-majalah teknologi, rak paling atas atau rak ke lima berderet rapi novel-novel yang sengaja ditaruh di sana karena pemiliknya jarang sekali mengambil mereka kembali.

Menari (bukan mengukir) di atas air

Pertama kalinya dalam semester ini aku diminta mengajar mata kuliah Biostatistika pada sebuah akademi kesehatan, semua persiapan sudah aku lakukan, membaca kembali materi-materi yang akan diajarkan, membuat slide presentasi yang menarik dan tak lupa juga membuat beberapa soal latihan, karena mata kuliah ini nanti akan banyak menggunakan rumus-rumus hitungan. Rasanya sudah cukup persiapan yang kulakukan untuk mengajarkan mata kuliah ini, apalagi ini adalah salah satu mata kuliah favoritku dulu. Hari pertama kuliah aku harus bersaing jangan sampai kalah dengan rasa kantuk yang menyerang mahasiswa, maklumlah aku mengajar mulai jam 2 siang, setelah perut terisi penuh dengan makan siang. Aku sudah mengantisipasi masalah jam mengantuk ini dengan menampilkan animasi-animasi lucu pada slide presentasiku, dan menyelipkan sedikit humor disana sini, biasanya mahasiswa jarang tertawa karena humorku seringkali garing dan tidak lucu, tapi tak mengapa paling tidak mereka urung mengantuk dan kem...

Antara menghargai dan memberi harga sebuah karya

Gambar
Sudah hampir satu bulan ini aku secara otodidak mempelajari seni membuat bunga dari kain yaitu hana kanzashi. Sesuai namanya hana kanzashi berasal dari negara jepang. Bahan dasar hana ( dalam bahasa Jepang artinya bunga) kanzashi umumnya adalah sutera. Teknik pembuatannya disebut tsumami, secara harfiah adalah mencubit, maknanya ‘mencubit’ sepotong kain persegi dengan dua jari lalu membentuknya.  Ini adalah sebuah teknik yang dikenal sejak Jaman Edo (1603 – 1868) di Jepang (sumber : wikipedia). Bunga-bunga itu kemudian dirangkai menjadi kanzashi yang artinya  adalah hiasan rambut para wanita di Jepang saat mereka menggunakan kimono, bentuknya disesuaikan dengan musim saat itu, kadang berbentuk bunga plum, lotus kupu kupu.

Anak lelaki bertattoo di dalam angkot

Hari menjelang petang ketika aku selesai mengajar di sebuah universitas, karena udara sudah tidak terlalu panas aku memutuskan untuk mampir dulu ke toko buku, maklum semua buku sudah habis dibaca jadi lebih baik aku jalan-jalan sebentar siapa tau nanti ketemu buku bagus pikirku. Aku menyetop sebuah angkot yang kebetulan lewat, isinya hampir kosong hanya ada seorang anak remaja tanggung yang duduk persis di belakang sopir. Aku mengambil tempat duduk di pojok berseberangan dengan anak laki-laki itu. Posisi duduk yang hampir berhadapan ini membuat aku mau tak mau  jadi sering memperhatikan anak itu. 

Pohon salam di samping rumah

Gambar
Sebatang pohon salam tumbuh rindang di samping rumahku, daun-daunnya rimbun memberikan keteduhan. Setiap hari aku harus menyapu daun-daunnya yang kering berguguran. Dulu mama menanamnya untuk memakai daunnya sebagai obat, beberapa lembar daunnya ditambah dengan sepotong kunyit direbus, kemudian air rebusannya diminum setiap pagi. Dengan ramuan itu dulu mama berhasil mengobati penyakit asam uratnya. Bibit pohon salam itu didapat dari ibu kosku,  dan dengan tangan dinginnya mama berhasil menumbuhkan pohon salam yang tadinya hanya bibit yang sangat kecil hingga menjadi batang pohon yang besar dan rindang. Sayangnya dulu mama menanam pohonnya terlalu dekat ke tembok samping rumah, seiring waktu dahannya yang semakin bertambah rimbun mulai menyeberang ke atap rumah tetangga. Tetanggaku sendiri tidak pernah mengeluh walaupun selama ini mereka juga harus menyapu daun-daunnya yang kering setiap hari. Tapi aku merasa tidak enak karena pastilah tetanggaku sebenarnya cukup terganggu dengan...

Merapikan Kenangan

Selalu kucari cara agar kenangan-kenangan yang sudah lalu bersama orang tuaku bisa kurasakan lagi. Membongkar barang-barang peninggalan mereka adalah salah satu caraku menghidupkan kenangan bersama mereka, kali ini aku akan membongkar buffet besar di ruang tengah tempat buku-buku bapak dan beberapa perabotan milik mama dulu.

Sabang Nan Elok

Gambar
Tak lengkap rasanya kalau sudah ke Aceh tapi tidak mengunjungi Pulau Weh, pulau paling barat Indonesia dimana titik 0 kilometer bermulai. Maka setelah puas mengelilingi Kota Banda Aceh dan mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah, keesokan harinya kami bersiap-siap mengunjungi Pulau Weh. Pagi hari dengan menggunakan sepeda motor temanku kami menuju Pelabuhan Uleue leu, namanya sangat sulit kuucapkan tapi ternyata cara membacanya hanya ule le saja, kata temanku sambil berkelakar "tulisannya boros padahal bacanya pendek aja....". Kami menyempatkan sarapan di sana sembari menunggu kapal siap diberangkatkan.

Tanah Aceh Nan Perwira

Gambar
Sudah sangat lama aku ingin mengunjungi dua kota paling barat Indonesia yaitu Medan dan Banda Aceh, terlebih lagi Banda Aceh karena menurutku kota itu menyimpan sejarah yang cukup banyak, sejarah kepahlawanannya melawan Belanda dan juga kisah pilu yang ditinggalkan tsunami. Perjalananku dimulai dari Kota Medan, hari sudah menjelang petang ketika akhirnya aku menjejakkan kaki pertama kali di Bandara Internasional Polonia Medan. Agak terkejut aku menyaksikan begitu banyak toko di dalam bandara, suasana hiruk-pikuknya mengingatkanku pada stasiun kereta, ramai sekali.

Ada cerita di musim duku tahun ini...

Gambar
Musim buah duku adalah musim yang paling aku nantikan sepanjang tahun, maklum saja sepanjang tahun pohon duku hanya berbuah satu kali dan biasanya musimnya dimulai setelah musim hujan berakhir. Tahun ini buah duku melimpah ruah. Aku yang sangat menggemari buah duku hampir tiap hari membelinya, apalagi harganya di Bengkulu lumayan murah hanya sekitar 4 – 5 ribu perkilo. Duku Jambi adalah favoritku dibandingkan dengan duku Muara Enim atau Rupit, karena buahnya besar dan sangat manis, juga tanpa biji! Wooww kebayang kan saat kita menguliti kulit buahnya dan di dalamnya terdapat daging buahnya yang putih jernih dan tanpa biji pula, huff aku biasanya langsung memasukkannya ke dalam mulut tanpa perlu memisah-misahkan bulir-bulirnya itu.

Sepuluh ribu buat si miskin dan si kaya

Gambar
Berikan masing-masing selembar uang sepuluh ribu rupiah kepada seorang miskin dan seorang kaya, maka dia akan menceritakan kisah yang berbeda... Sepuluh ribu bagi si miskin  Seorang ibu dengan seragam pegawai negeri sipil menghentikan becak yang lewat di depannya, karena sudah biasa naik becak maka ibu itu tidak menawar lagi harga ongkosnya. Rupanya si ibu minta diantarkan ke pasar yang tidak jauh letaknya dari kantornya, mungkin dia ingin berbelanja sayur untuk dimasak siang ini. Sampai di pasar yang dituju si ibu kemudian turun dan menyerahkan selembar uang sepuluh ribu yang sudah tidak baru lagi kepada Bapak penarik becak tersebut. Bapak tukang becak itu terkejut sambil berkata “uang kecil saja bu, saya baru keluar siang ini belum dapat penumpang, anak saya yang kecil tadi sakit…” Si ibu lalu merogoh saku bajunya mencari uang tiga ribu rupiah yang biasa dia bayar. Tapi rupanya ini tanggal muda, uang di dompetnya masih utuh dalam pecahan seratus ribu dan lima puluh ribuan. Bias...

Dunia tak selebar layar ponsel

Gambar
Pada saat ponsel atau handphone pertama kali diluncurkan, sebagian kita mungkin berpikir untuk apa membeli barang yang tidak terlalu penting dengan harga semahal itu, hanya orang-orang berduit yang berprinsip waktu adalah uang yang merasa perlu membeli ponsel untuk memudahkan bisnis mereka. Tapi begitulah para produsen ponsel bertahun-tahun mendidik kita melalui iklan-iklan dan bermacam-macam propaganda tentang pentingnya sebuah ponsel, sampai akhirnya kita yang dulunya merasa asing dan tidak membutuhkan mulai merasa perlu lalu menjadi gaya hidup sampai akhirnya kecanduan ponsel! Sekarang rasanya lumrah saja jika melihat tukang becak atau tukang sayur asik bertelpon ria melalui ponsel sembari menunggu pelanggannya.

Look what technology has done to me….

Gambar
Saat bulan ramadhan seperti ini hal yang paling sering aku lakukan adalah beres-beres rumah, apalagi sekarang aku punya banyak waktu senggang karena sekolah sudah selesai dan juga belum harus masuk kantor karena belum diwisuda. Jadi kalau sedang tidak bermain-main dengan keponakan-keponakanku kesibukanku adalah memasak dan membereskan rumah. Hari ini jadwal membereskan dapur, tumpukan koran-koran bekas dan berbagai peralatan rumah tangga yang sudah rusak dan tidak terpakai sangat mengganggu pemandangan. Heran juga kenapa dulu mama suka sekali membeli barang pecah belah, dua lemari besar di dapur bahkan tidak cukup menampung koleksi piring dan gelas serta sendok mama yang bahkan diantaranya hampir belum pernah dipakai. Dulu  aku pernah bertanya kenapa mama beli piring dan gelas banyak-banyak, kan kita orangnya cuma sedikit? jawab mamaku “ biar kalo ada acara di rumah kita tidak perlu lagi meminjam ke tetangga” . Oh… ya sudahlah aku manggut-manggut saja.

How writing changes me

Bagaimana menulis dapat mengubahku, itulah yang akan kutuliskan kali ini. Awalnya aku tidak terlalu percaya diri untuk menulis tentang ini karena merasa belum banyak tulisan yang aku hasilkan, tapi siapa tahu tulisan ini juga dapat mempengaruhi dan memberi manfaat buat orang lain yang juga suka menulis. Seingatku aku sudah mulai menulis cerita sejak masih di bangku SD, waktu itu tulisan-tulisanku aku kumpulkan di sebuah buku tulis, temanya bermacam-macam, tentang mamaku  yang cantik, tentang guruku, dan tentang cita-citaku, aku juga bahkan pernah membuat sebuah fabel (cerita tentang hewan) tentang bebek peliharaan keluarga kami, dengan bahasa kanak-kanakku aku bercerita bagaimana keluarga bebek itu berebut cacing saat makan siang dan anak bebek yang bungsu tidak kebagian dan akhirnya menangis. Sayang aku lupa dimana sekarang buku itu berada, mungkin sudah ikut terjual bersama koran-koran bekas dan majalah ke tukang loak. Waktu SMP dan SMA aku sering menulis puisi selain juga mulai...

Cerita yang tersisa sepanjang Magelang-Purworejo

Gambar
Betapa sulitnya mengumpulkan nafas untuk mulai menulis lagi setelah sekian lama absen, ada saja halangannya, kena diarelah, sakit kepala karena masuk anginlah, deadline setoran proposal tesis, dan ketiban proyek pembuatan website yang benar-benar mendesak. Ah, akhirnya Alhamdulillah jari-jemari ini kembali mau menari di atas keyboard, menterjemahkan tiap kelebatan memory di otakku menjadi kalimat-kalimat untuk memuaskan dahagaku berkeluh kesah dan bercerita tentang kehidupanku….

Tidak adakah surga di bawah telapak kaki ayah?

Berceritalah sahabatku di sela-sela waktu istirahat kuliah di kampus tentang musibah yang menimpa adik iparnya, sebutlah namanya Aisyah agar lebih mudah aku menceritakannya kepada kalian . Aisyah baru saja melahirkan anaknya yang ke-dua, tetapi malangnya anak tersebut hanya beberapa detik saja menghirup udara di dunia, karena tak berapa lama kemudian bayi mungil tersebut meninggal dunia.