Postingan

Sangatta, Bontang hingga Kota Tepian Samarinda

Gambar
Mengunjungi Pulau Kalimantan sudah menjadi impianku sejak lama, ada beberapa orang sahabatku yang tinggal di pulau itu. Berhubung sudah kangen dengan sahabat masa SMP ku dulu ( Sahabat dari masa ke masa) akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi Kalimantan Timur.  Malam sudah sangat larut saat aku memasuki Bandara Sultan Aji Muhammad Sepinggan yang sepi, aku langsung menuju tempat pemesanan taxi dan menyebutkan nama hotel tempat aku akan menginap . “Tujuh puluh ribu” kata petugas di counter taxi ramah tapi tetap saja membuat aku kaget karena yang aku tahu dari hasil browsing di internet jaraknya hanya sekitar 15 menit dari bandara. Welcome to Balikpapan pikirku, kota yang katanya termasuk kota paling nyaman tapi juga paling mahal.

Negeri di atas laut Bontang Kuala

Gambar
Sumber Foto : http://pktvbontang.com/bontang-kuala-di-rancang-sebagai-kawasan-pariwisata-sehat/ Selepas sholat ashar kami bersiap meninggalkan sangatta untuk menuju Bontang Kuala. Kali ini yang menyetir adalah suami temanku karena memang jaraknya yang lumayan jauh. Berhubung rute Bontang – Sangatta sudah aku lewati kemaren jadi di mobil aku berusaha tidur. Temanku bahkan sempat bercanda kalau aku akan melewati jalur Sangatta – Bontang sebanyak enam kali wowww…Tapi ternyata jalanan cukup jelek sehingga mobil terkadang terseok-seok dan kami terlonjak-lonjak di dalam mobil, waktu naik travel dari  Balikpapan ke Sangatta aku pasti tidur pulas sehingga tidak tau kalau jalan berlubang dan bergelombang.

Suatu sore di tepian Sungai Mahakam Samarinda

Gambar
Setelah sholat shubuh aku sudah membereskan barang-barang karena jam delapan travel akan menjemput. Sarapan pagi ini di rumah saja karena sahabatku membuatkan nasi goreng yang special. Dari kemarin sahabatku sudah menceritakan tentang kelezatan nasi goreng buatannya  dan ternyata nasi gorengnya memang benar-benar enak.

Sisakan ruang untuk harga dirinya

Seorang saudara jauh datang berkunjung, setelah berbasa-basi karena sekian lama tak berjumpa akhirnya cerita berlanjut sekitar keadaan ekonomi keluarganya yang alhamdulillah semakin membaik. Rupanya saudaraku itu sekarang sudah mempunyai pekerjaan tetap dengan gaji yang yang lumayan sebagai tenaga bersih-bersih di sebuah universitas besar di kota. Tentu saja ini kabar yang menggembirakan mengingat perjuangannya bersama suami menghidupi keluarga selama ini,  apalagi mencari pekerjaan sangatlah susah, jangankan untuk yang berpendidikan biasa sepertinya sedangkan untuk yang sudah berijazah sarjana saja sangat sulit.  Cerita berlanjut penuh kesyukuran,  dengan semangat dia menceritakan pekerjaannya di kantor, aku mendengarkan dengan antusias. Sampai kemudian cerita menjadi terlalu banyak bumbu...  "Maaf ya jarang main kesini soalnya di kantor sibuk sekali,  rapat dengan rektor,  rapat dengan para dosen, kadang sampai di rumah rasanya sudah cape banget......

Pagi hari, saat aku menggores sejarah

Gambar
(sumber gbr http://www.carfreediet.com/tasks/sites/cfd/assets/Image/cartoon_bus.gif) Pagi hari adalah keindahan, saat berkah dicurahkan dari langit, saat semangat dan harapan memenuhi langit, saat langit tersenyum menyaksikan manusia bertebaran mencari rizki. .Udara sejuk dan bersih, penat telah hilang, semua permasalahan dan beban hidup telah dipasrahkan dalam lantunan doa tadi malam, pagi adalah sebuah awal yang penuh harapan indah.

Maaf pak, bu...aku sengaja nguping...

Gambar
(Sumber gambar : http://www.bishopscleeve.gloucs.sch.uk/kids/kids_index.asp)  Salah satu hobbyku adalah menulis tapi sayangnya kegiatan ini tidak terlalu sering aku lakukan . Menulis di blog berbeda dengan menulis buku harian yang dulu sering kulakukan saat masih remaja, menulis di blog tentu saja harus ada temanya, jalan ceritanya, dan karena tulisan itu akan dibaca orang lain (tidak seperti buku harian jadulku yang digembok) maka aku bertekad semua tulisanku harus ada manfaat atau hikmahnya buat yang membaca.

Sekolahan anak orang kaya

Angkot yang kutumpangi berjalan tersendat-sendat, tak biasanya jalanan macet bahkan saat hujan sekalipun, apalagi hujan deras dari pagi sudah berubah menjadi gerimis saat menjelang petang. Seperti biasa penumpang di dalam angkot sepi, hanya ada aku dan seorang ibu yang duduk dekat pintu. Setelah beberapa menit tampaknya angkot kami hanya berjalan beberapa meter saja, kami mulai penasaran ada apa.   " Tumben macet pak, ada apa di depan, apa ada pohon roboh?” tanya ibu-ibu di depanku. Akupun ikut menjulurkan kepala  mencoba melihat ke depan.