Postingan

Aku Mau Sedekah

Bulan istimewa, bulan penuh berkah tiba. Hari-harinya paling utama. Malam-malamnya paling utama. Jam demi jamnya paling utama.  Pahala sunnahnya dinilai sebagai pahala wajib, bahkan 1 kebaikan dibalas 70 kebaikan. Sedekah adalah 1 kebaikan, 1 sedekah akan diganjar 70 kebaikan. Aduhhai...siapa tak ingin mendapatkan sedemikian banyak kebaikan hidup di dunia dan di akhirat.

Mengeja Waktu

Gambar
Menginjakkan kaki kembali di tempat yang dua puluh tahun lalu pernah sangat kuakrabi rasanya seperti diserang dejavu tiap hari. Setiap sudut yang kulewati seolah menjadi kutub magnet besar yang menarik kenangan dari ingatan terdalamku. Kelebatan kenangan yang semula samar kemudian menjelma menjadi film bisu, kadang karena terlalu riuhnya kenangan itu muncul membuat kakiku terasa berat melangkah. Kuhembuskan nafas kuat-kuat untuk mengurangi beban di kepalaku. Sambil menenangkan kepala yang mendadak begitu sibuk aku berjalan pelan-pelan mengamati sekelilingku yang tidak banyak berubah. 

Menawar Harga Diri

“Saya minta tolong Bu, tolong ubah nilai saya jadi A atau B. Saya anak pertama Bu, setelah lulus kuliah ini orang tua saya sudah menyiapkan saya untuk masuk PNS. Kalau IPK saya tidak cukup dari batas minimal saya tidak bisa ikut seleksi PNS dan saya akan mengecewakan orang tua saya Bu, saya mohon Bu…”  Kalimat-kalimat setengah merengek itu keluar dari mulut seorang anak didikku. Tak urung aku terkejut mendengar kata-katanya, nekat juga anak ini pikirku. Hari ini saat ruang dosen sedang sepi dia menghampiriku dan katanya ingin berkonsultasi mengenai topik tugas akhirnya. Nyatanya bukan masalah topik penelitian yang dia utarakan tapi masalah perbaikan nilai, bukan dengan jalan yang seharusnya tetapi dengan jalan mendekati dosennya.

Sangatta, Bontang hingga Kota Tepian Samarinda

Gambar
Mengunjungi Pulau Kalimantan sudah menjadi impianku sejak lama, ada beberapa orang sahabatku yang tinggal di pulau itu. Berhubung sudah kangen dengan sahabat masa SMP ku dulu ( Sahabat dari masa ke masa) akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi Kalimantan Timur.  Malam sudah sangat larut saat aku memasuki Bandara Sultan Aji Muhammad Sepinggan yang sepi, aku langsung menuju tempat pemesanan taxi dan menyebutkan nama hotel tempat aku akan menginap . “Tujuh puluh ribu” kata petugas di counter taxi ramah tapi tetap saja membuat aku kaget karena yang aku tahu dari hasil browsing di internet jaraknya hanya sekitar 15 menit dari bandara. Welcome to Balikpapan pikirku, kota yang katanya termasuk kota paling nyaman tapi juga paling mahal.

Negeri di atas laut Bontang Kuala

Gambar
Sumber Foto : http://pktvbontang.com/bontang-kuala-di-rancang-sebagai-kawasan-pariwisata-sehat/ Selepas sholat ashar kami bersiap meninggalkan sangatta untuk menuju Bontang Kuala. Kali ini yang menyetir adalah suami temanku karena memang jaraknya yang lumayan jauh. Berhubung rute Bontang – Sangatta sudah aku lewati kemaren jadi di mobil aku berusaha tidur. Temanku bahkan sempat bercanda kalau aku akan melewati jalur Sangatta – Bontang sebanyak enam kali wowww…Tapi ternyata jalanan cukup jelek sehingga mobil terkadang terseok-seok dan kami terlonjak-lonjak di dalam mobil, waktu naik travel dari  Balikpapan ke Sangatta aku pasti tidur pulas sehingga tidak tau kalau jalan berlubang dan bergelombang.

Suatu sore di tepian Sungai Mahakam Samarinda

Gambar
Setelah sholat shubuh aku sudah membereskan barang-barang karena jam delapan travel akan menjemput. Sarapan pagi ini di rumah saja karena sahabatku membuatkan nasi goreng yang special. Dari kemarin sahabatku sudah menceritakan tentang kelezatan nasi goreng buatannya  dan ternyata nasi gorengnya memang benar-benar enak.

Sisakan ruang untuk harga dirinya

Seorang saudara jauh datang berkunjung, setelah berbasa-basi karena sekian lama tak berjumpa akhirnya cerita berlanjut sekitar keadaan ekonomi keluarganya yang alhamdulillah semakin membaik. Rupanya saudaraku itu sekarang sudah mempunyai pekerjaan tetap dengan gaji yang yang lumayan sebagai tenaga bersih-bersih di sebuah universitas besar di kota. Tentu saja ini kabar yang menggembirakan mengingat perjuangannya bersama suami menghidupi keluarga selama ini,  apalagi mencari pekerjaan sangatlah susah, jangankan untuk yang berpendidikan biasa sepertinya sedangkan untuk yang sudah berijazah sarjana saja sangat sulit.  Cerita berlanjut penuh kesyukuran,  dengan semangat dia menceritakan pekerjaannya di kantor, aku mendengarkan dengan antusias. Sampai kemudian cerita menjadi terlalu banyak bumbu...  "Maaf ya jarang main kesini soalnya di kantor sibuk sekali,  rapat dengan rektor,  rapat dengan para dosen, kadang sampai di rumah rasanya sudah cape banget......